Kembali ke depan
Membumikan Sastra
Tradisi sastra telah ada semenjak awal peradaban manusia, tak terkecuali di nusantara ini, bahkan sebelum Indonesia berdiri tegak seperti sekarang ini. Cikal bakal sastra telah ada dan menjadi bagian bangsa ini. Seperti kita ketahui, kita telah sering mendengar—ataupun mempelajari adanya Sastra Melayu Klasik. Inilah cikal bakal berkembanganya sastra sekarang ini.
Membumikan Sastra
Tradisi sastra telah ada semenjak awal peradaban manusia, tak terkecuali di nusantara ini, bahkan sebelum Indonesia berdiri tegak seperti sekarang ini. Cikal bakal sastra telah ada dan menjadi bagian bangsa ini. Seperti kita ketahui, kita telah sering mendengar—ataupun mempelajari adanya Sastra Melayu Klasik. Inilah cikal bakal berkembanganya sastra sekarang ini.
Sastra, secara harfiah berarti hasil perenungan manusia yang tertinggi terhadap pengalaman-pengalaman hidup yang telah dialami oleh individu maupun suatu masyarakat. Perenungan tersebut untuk memperoleh makna, dan pesan dari sastra tersebut diekspresikan dalam bentuk (bahasa sebagai sarananya) yang estetis (tak melenakan unsur keindahan). Sehingga, karya tersebut bisa dinikmati tidak saja secara logika tetapi juga dinikmati sebagai seni bagi pencerahan jiwa (mengasah perasaan). Begitulah, sastra selalu identik dengan pencerahan dan pembangkitan kecerdasan emosional seseorang, yang nantinya juga berpengaruh dengan pencerahan spiritual seseorang.
Hal tersebut menjadi salah satu pijakan adanya pembelajaran sastra di sekolah ataupun madrasah. Salah satu fungsi utamanya adalah menyinergikan antara kecerdasan logika intelektual (otak kiri) dengan kecerdasan emosional abstrak (otak kanan). Bila pembelajaran yang lain mengarah pada ranah kognitif dan logika pikiran, maka sastra mengarahkan anak untuk menhidupkan kerja otak kanan dalam mengolah rasa, emosi, empati, bahkan membangkitkan spiritual mereka.
Secara sederhana, keberadaan sastra di sekolah atau madrasah diharapkan menjadi salah satu solusi yang integral dengan pembelajaran etika, moral, adab, seni, bahkan agama sekaligus. Pembelajaran etika dan moral, secara sederhana bisa diperoleh ketika anak berkesempatan membaca karya sastra (cerpen, novel) dan menemukan pengalaman yang dialami tokoh, yang mungkin mengidentifikasikan diri si pembaca. Tak jarang, karya sastra juga memuat ajaran atau pesan-pesan spiritual keagamaan. Jadi, pembelajaran agama pun bisa dilakukan dengan membaca sastra. Karena, jika kita ingat, Al-Qurán pun disusun dengan bahasa sastra yang amat estetis (indah), dan merupakan karya sastra tertinggi di dunia. Bangsa Arab, dikaruniai kemuliaan tersendiri dengan kepekaan terhadap keindahan bahasa, sehingga lahirlah syair-syair masyhur. Salah satunya adalah syair yang menunjukkan kecintaan bagsa Arab kepada Nabi Muhammad SAW, dan salah satunya telah diabadikan dalam kitab Al-Barzanji, kitab Al-Manakib, dan sejumlah kitab lainnya, yang sekarang bisa kita nikmati di Indonesia.
Menulis Sastra; Multiple Inntelegence
Salah satu aspek pembelajaran sastra di madrasah adalah menulis karya sastra, mulai dari menulis puisi, cerpen, naskah drama, sampai menulis novel. Kegiatan bersastra yang paling digemari, biasanya adalah menulis puisi. Apalagi bagi remaja, membuat puisi menjadi salah satu ajang ekspresi jiwa, mungkin persahabatan, percintaan, atau perenungannya terhadap kehidupan sehari-hari. Hal itu sangat bermanfaat untuk mengontrol emosi. Sebagian ahli psikologi berpendapat bahwa seorang remaja yang bisa mengontrol emosi melalui tulisan—adalah remaja yang sukses mencari jati diri. Maka, banyak ahli menyarankan menulis agenda harian—untuk mengendapkan emosi dan merencanakan langkah selanjutnya.
Namun, karya sastra tentunya tak hanya puisi cinta. Jika kita mengayunkan langkah untuk mengikuti jejak para sastrawan, maka akan kita temukan begitu banyak nilai dan pesan yang bisa disampaikan lewat puisi. Semisal Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), beliau menyampaikan pesan sosial melalui kacamata islam lewat syair-syairnya, demikian pula WS Rendra (alm), yang semasa hidup beliau mencurahkan pandangan terhadap pemerintahan dan carut marut Indonesia melalui puisi. Tentunya kita juga bisa merekam pandangan-pandangan terhadap berbagai pengalaman kehidupan ke dalam puisi yang indah—dan bisa dinikmati khalayak.
Tentunya, tak hanya puisi saja yang menjadi sarana bersastra. Karya sastra yang lain, diantaranya cerpen, yang secara sederhana bisa dipahami sebagai karya sastra yang merupakan sepenggal kisah kehidupan dan habis dibaca sekali duduk. Ciri umumnya, tokohnya sedikit dengan karakter tunggal, beralur (jalan cerita) tunggal, bertema tunggal, berkonflik tunggal, dan biasanya tidak mengubah nasib tokoh. Dengan kesederhanaannya, cerpen menjadi salah satu andalan untuk menuangkan permasalahan, yang juga mempunyai nilai ‘batin’seperti halnya puisi. Ada nilai dan pesan (religi, moral, sosial, bahkan politik) di dalamnya, yang akan menjadi bahan olah rasa bagi pembacanya.
Kecintaan terhadap sastra, bisa pula dituangkan dalam bentuk yang lebih kompleks, seperti halnya menulis skenario atau naskah drama. Berbeda dengan cerpen atau novel, naskah drama mempunyai sisi yang lain, yaitu kisah dituangkan dalam bentuk dialog-dialog dan lakon yang semestinya diperankan di atas panggung. Tingkatan pemahaman terhadap nilai sastra semakin tinggi, karena selain dipahami sebagai teks, penikmat drama juga bisa mengidentifikasi tokoh dan karakter dalam teks drama tersebut. Seni peran (memerankan karakter tertentu), menjadi salah satu pembelajaran yang tidak hanya mempekerjakan otak kiri, tetapi juga mempekerjakan seluruh tubuh siswa. Artinya, siswa bisa secara total (penghayatan) melakukan pembelajaran melalui seni peran.
Tak kalah pentingnya, ketika sastra juga dituangkan dalam bentuk novel, yang secara sederhana merupakan karya sastra yang kompleks. Menyajikan semua permasalahan hidup manusia dalam tulisan, yang amat panjang dan kompleks, baik tema, tokoh, alur, setting, maupun nilai-nilai dan pesan yang disampaikan. Bahkan, kalau mau ekstrim, novel bisa memindahkan dunia dalam satu buku. Maka, diwajibkan, bagi siswa madrasah atau sekolah menengah untuk mengupas novel, diharapkan mereka bisa menggali berbagai pengetahuan dan perenungan baru dari novel tersebut.
Membumikan Sastra di Madrasah
Sastra di madrasah, tidak melulu belajar di dalam kelas atau dipersempit dengan silabus dalam kurikulum. Kegiatan bersastra, bisa dimungkinkan di luar jam pelajaran—dan bisa melejitkan potensi siswa. Salah satunya di MAN 2 Wates telah ada beberapa wahana bersastra. Seperti halnya keberadaan Majalah At-Taddarus, memberikan ruang bagi siswa dan guru yang ingin berkarya sastra. Terbukti, keberadaan media publikasi mendongkrak keinginan siswa untuk mencoba menulis sastra. Selain itu, ada pula ekstra kurikuler teater, yang diharapkan bisa menjadi salah satu wahana siswa berekspresi seni peran dan mendalami sastra—terutama tentang drama (teater: olah jiwa).
Madrasah juga telah berusaha memperluas link, dengan komunitas sastra di Jogja. Salah satunya website sastra milik Lumbung Aksara. Terbukti, siswa antusias untuk mulai mengirimkan karya mereka ke internet, lewat situs lontar tersebut. Selain itu, kerja sama dengan komunitas Mata Pena—dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengikuti pelatihan sastra di Mata Pena. Dalam period eke-tiga, Zahratul Khasanah (XIA2) dan Rhina Aftanti (XIA2) berkesempatan mengikuti Liburan Sastra di Pesantren. Mereka mengaku terinspirasi untuk berkarya sastra setelah mengikuti acara tersebut. “Seru! Dengan mengikuti kegiatan sastra di luar sekolah, memberikan inspirasi bagi saya untuk mengenal sastra lebih dekat. Tentunya juga lebih semangat lagi menulis.” Ujar Zahra. Dia juga bercerita bahwa dalam event tiga hari selama liburan tersebut dia bisa belajar mencintai sastra dan belajar menulis sastra langkah demi langkah, mulai dari mencari inspirasi, menciptakan tokoh, konflik, hingga tema yang tidak klise (itu-itu saja). Hal senada juga dikatakan oleh Rhina, bahwa ia merasa tertantang untuk membuat karya yang lebih bagus. “kalau dulu hanya puisi cinta dan saya simpan di diary, sekarang saya mulai ingin mempublikasikannya, termasuk di At-Taddarus.” Harapan mereka, di tahun mendatang, mereka ataupun teman yang lain berkesempatan mengikuti kegiatan yang sama.
PR Bagi Guru
Tak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk menggelorakan semangat bersastra di kalangan siswa. Guru memang harus terus inovatif agar siswa tertarik untuk mengembangkan potensi sastra. Antara lain, dengan mempublikasikan karya siswa lewat At-Taddarus ataupun media lainnya. Selain itu, juga melalui berbagai event yang menciptakan kreativitas sastra.
Semangat tersebut dimulai ketika Guru Bahasa Indonesia berkesempatan mengikuti TOT Menulis Karya Fiksi di FBS UNY. Dalam sarasehan sastra tersebut, dimunculkan motivasi dan gelora untuk menulis sastra. Pada akhirnya, hasil TOT tersebut diturunkan kepada siswa yang telah berkesempatan untuk menjadi peserta penulis antologi cerpen SMA/MA se-DIY, atas nama Nunik Widayanti (XA) dan Nur Ihsanudin (XA). Pengalaman pertama menjadi penulis cerpen di antara teman-teman di Yogya, merupakan motivasi tersendiri.
Prof. Dr. Suminto A.Sayuti, dalam kesempatan emas tersebut menyatakan bahwa sastra seharusnya se-booming olimpiade sains. Kalau ada olimpiade sains, seharusnya ada olimpiade sastra. Karena sastra tak sekedar soal dalam UN yang “pura-pura tidak tahu”, akan tetapi juga yang terpenting adalah sastra sebagai pencerahan bagi siapa saja, termasuk guru dan siswa. Sastra juga menginspirasi, menasehati, mengkritik, bahkan menohok seseorang yang membacanya. Hal itu karena dalam karya sastra terdapat perenungan dan refleksi dari berbagai permasalahan kehidupan. Maka, sastra tak sekedar teori di kelas, menjadi soal olimpiade, atau menjadi bagian soal UN. Lebih dari itu, sastra adalah yang menggugah rasa, dan memanusiakan manusia. Maka, dalam kesempatan tersebut, Pak Minto berkata “bacaan para anggota DPR dan terlebih presiden adalah sastra.”sastralah yang mengajarkan inti kehidupan manusia. “Melalui sastralah, kita dihadapkan pada realitas di lapangan.”
Dalam hal tersebut, guru diharapkan menanamkan akhlak dan perilaku yang mulia melalui kegiatan membaca (memahami, merenungi, merefleksikan) karya sastra. Selain itu juga melalui kegiatan menulis karya sastra.
TIPS Menulis Sastra
1. Mulailah dengan suka membaca apa saja.
2. Mulailah dari sekarang, dengan tak melewatkan peristiwa-peristiwa menarik di sekitar kita: catatlah!
3. Belajarlah merenung, tuliskan!
4. Tuliskan saja apa yang ingin kamu tuliskan!
5. Diamkan.
6. Mintalah orang lain membaca. Mintalah komentar!
7. Perbaiki tulisanmu!
8. Kirimkan ke media!
9. Jangan putus asa.
10. Berkaryalah terus sepanjang masa, maka kamu akan dicatat oleh sejarah!
11. Buktikan, bahwa kalau kau bukan siapa-siapa, maka kamu akan terkenal dengan menulis.
12. Selamat berkarya sastra!
klik untuk kembali ke depan
Redaksi
Siwi Nurdiani
File: Siwi At-Taddarus (my doc)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar